Homeschooling, Alternatif Pendidikan

SELAMA ini, masyarakat punya paradigma bahwa anak belajar harus ke sekolah, di ruang kelas bersama teman seumuran, dan diajar oleh guru. Mereka belajar matematika, IPA, IPS. Namun sesungguhnya pendidikan tak hanya bisa lewat sekolah.

Orang tua bisa memilih memberikan pendidikan pada anak-anak lewat homeschooling. Homeschooling adalah metode pendidikan alternatif bagi anak. Model pembelajaran di bawah pengawasan orang tua sebagai guru utama. Bisa juga mendatangkan tutor, guru pendamping atau privat.

Kegiatan belajar-mengajar dalam homeschooling sangat fleksibel; di mana saja, kapan saja, dan anak bebas memilih pelajaran yang disukai sehingga nyaman. Bisa belajar di rumah, tempat wisata, alam terbuka, museum, dan lingkungan sekitar yang diinginkan.

Belakangan makin banyak orang tua menerapkan homeschooling bagi anak-anak. Mereka punya alasan berbeda tidak menyekolahkan anak. Ada alasan praktis, seperti keluarga berpindah- pindah domisili, sehingga sulit jika anak harus pindah sekolah. Atau, anak berkebutuhan khusus atau berbakat, sehingga butuh model pendidikan yang tak dipenuhi sekolah umum.

Ada juga karena anak sudah menemukan passion pada usia muda dan ingin menekuni sebagai profesi. Namun banyak juga keluarga memilih homeschooling karena tak menemukan sekolah ideal bagi anak mereka. Koordinator Nasional Perserikatan Homeschooler Indonesia (PHI) Ellen Kristi menuturkan pada dasarnya homeschooling dan sekolah sama-sama pilihan pendidikan.

Homeschooling jalur pendidikan informal, sedangkan sekolah jalur formal. Keduanya diakui dan dilindungi negara. Menurut Pasal 13 Ayat (1) UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, jalur-jalur pendidikan itu saling melengkapi dan memperkaya.

Istilahnya multi-entry, multiexit, anak boleh pindah jalur pendidikan sesuai dengan kebutuhan. Tujuannya tetap, agar anak memperoleh pendidikan berkualitas. Namun tak bisa dimungkiri sebagian keluarga homeschooler merasa nyaman tak menyekolahkan anak karena ingin menghindari dampak negatif persekolahan.

"Seperti bullying, kekerasan, belajar hafalan, kurang terfasilitasi minat dan bakat anak," kata Ellen. Homeschooling terhubung dengan sistem pendidikan nasional. Sudah ada Peraturan Menteri pendidikan dan Kebudayaan Nomor 129 Tahun 2014 yang mengatur secara khusus. Dalam Pasal 1 Angka 4 disebut, homeschooling adalah pendidikan yang diselenggarakan keluarga dan lingkungan. Hasil pendidikan anak homeschooler diakui sama dan setara dengan pendidikan formal, setelah melewati ujian kesetaraan.

Bila sudah dapat ijazah kesetaraan, anak homeschooler berhak diperlakukan setara dengan siswa lulusan sekolah formal mana pun. Ada pula surat edaran Menteri Pendidikan Nasional Nomor 107/MPN/MS/2006 yang menjamin kesetaraan ijazah ujian kesetaraan dan ijazah dari sekolah formal, baik untuk melanjutkan kuliah maupun masuk ke dunia kerja.

Dalam sistem homeschooling, keluarga mendampingi proses belajar anak, menyesuaikan materi, metode, dan proses belajar sesuai dengan kondisi unik setiap anak. Keluarga atau orang tua menjadi guru utama dan fasilitator. Tugas orang tua memantau anak dan membantu mempelajari semua kebutuhan atau keinginan anak. Jika bisa, orang tua bisa mengajar sendiri.

Namun jika anak ingin belajar sesuatu yang orang tua tak mampu, orang tua bertugas sebagai fasilitator untuk mencarikan tutor. "Misalnya, ada anak berminat jadi komikus, orang tua mencarikan dia komunitas komikus supaya bisa bergabung. Carikan guru menggambar komik, tunjukkan cara mencari informasi soal komik di internet, ajak lihat pameran komik," tutur Ellen.

Dia mengemukakan dari hasil riset, peminat homeschooling meningkat di kalangan orang tua berpendidikan tinggi. Sebab, mereka punya pemahaman lebih baik tentang parenting dan pendidikan. Mereka yakin anak bisa bertumbuh lebih baik jika mereka dampingi ketimbang dikirim ke sekolah.

Belum Tahu

Saat ini, banyak orang belum tahu tentang homeschooling. Mereka belum bisa membedakan antara homeschoolingdan lembaga pendidikan bermerek homeschooling. Sebagian mengira homeschooling seperti lembaga pendidikan atau kursus. Banyak juga yang membayangkan, homeschooling seperti memindah sekolah ke rumah. Kini, ada lembaga bimbingan belajar mem-branding diri dengan nama homeschooling A, B, C, D, dan lain-lain.

"Setiap cerita ke orang bahwa kami homeschooler, mereka sering bertanya, 'Gurunya datang ke rumah? Homeschooling di mana? Boleh nggak titip anakku juga di homeschooling- mu?' Banyak yang belum paham. Homeschooling sejati, keluarga mendampingi proses belajar anak-anak. Ada juga sih yang mencari guru privat jika tak menguasai pengetahuan yang anak ingin pejari," ujar Ellen.

Di tengah masyarakat yang belum mengerti dan lebih mengetahui pendidikan melalui sekolah, kata Ellen, menjadi homeschooler tidak gampang. Dimarahi kakek-nenek si anak, dicibir tetangga, dipertanyakan teman kantor, jadi hal biasa bagi orang tua homeschooler. Muncul omongan, antara lain "Anak kok dijadikan kelinci percobaan!", "Kalau nggak sekolah, anakmu nanti bodoh!", "Apa kamu mampu?", "Bagaimana sosialisasinya? Nanti anakmu kuper, asosial!", sering ditujukan pada orang tua homeschooler.

"Namun kami tetap memilih homeschooling karena sudah melihat dan merasakan anakanak lebih bahagia dan bertumbuh baik ketika belajar didampingi orang tua. Di Kota Semarang sudah ada 15 keluarga tergabung dalam Keluarga Besar Homeschooler Semarang (Kabehmesem).

Bisa jadi ada keluarga homeschooler yang jalan sendiri," ucap penulis Buku Cinta yang Berpikir itu. Berdasar riset Van Galen (1991), rata-rata orang tua yang memilih jadi homescholer punya perhatian lebih besar dalam mendampingi proses belajar anak dibanding rata-rata guru di sekolah. Menurut riset Rudner (1999), keterlibatan orang tua yang tinggi menyebabkan anak-anak homeschooler bisa berprestasi dengan baik.

Keberhasilan homeschooling sangat ditentukan oleh komitmen dan kesungguhan orang tua dalam mendampingi anak. Bukan pada sertifikasi atau gelar kesarjanaan. Untuk kebutuhan bergaul dengan kawan sebaya, keluarga homeschooler biasanya membentuk komunitas, baik sesama homeschooler maupun komunitas sevisi atau sehobi. Mereka mengadakan playdate antarkeluarga homeschooler.

Yang berkawan akrab bukan hanya anakanak, melainkan juga semua anggota keluarga. Sejauh ini, anak-anak homeschooler tak punya masalah dalam kemampuan bersosialisasi. Sebaliknya, mereka bersikap lebih dewasa saat bergaul. "Kalau kumpul, tak ada gapgapan di antara anak homeschooler. Yang besar bisa ngemong yang kecil, karena tak pernah dikotak-kotakkan dalam kelas. Jadi begitu kumpul, semua langsung main bareng dan membaur tanpa melihat umur."

Apa tolok ukur keberhasilan homeschooling? Setiap keluarga punya tolok ukur masingmasing. Ada yang mengutamakan pendidikan akhlak. Ada yang berprinsip asal anak bahagia dengan jalan hidupnya. Ada pula yang merasa berhasil jika anak bisa berprestasi di bidang tertentu yang dipilih. Keluarga homeschooler tak mengukur keberhasilan dengan ijazah. Setiap kemajuan anak adalah keberhasilan.

"Seperti saat anak membuat bentuk lego dari kreasinya, kami tepuk tangan. Anak datang dan bilang, 'Ma, tadi sebetulnya aku ingin makan permen, tapi aku memutuskan tidak mau makan karena itu tidak sehat!' Kami bersorak untuknya. Kami saling memuji dan menyemangati kemajuan yang ditunjukkan anak-anak," kata dia. (M Nurhafid-44)

Source Suaramerdeka

0 comments